The term Mulat Sarira originated from the Nilacandra script. It is often interpreted as self-awareness. Mulat means seeing and Sarira means oneself. Mulat Sarira Hangrasa Wani is a term from the Javanese language. The phrase always reminds us to look within, realize our potential, and know our strengths and weaknesses. It means retrospecting our actions, whether it is good or bad.

0 FacebookTwitterPinterestEmail

Taman Nasional Bali Barat (TNBB) menawarkan pengalaman berwisata yang sedikit berbeda dengan tempat lainnya di pulau dewata. Vegetasi alamnya cukup lengkap mulai dari hutan musim, savana, mangrove, sampai dengan terumbu karang. Pantai pasir putih dengan laut yang membiru membuat kita betah berlama-lama bersantai. Jika beruntung, kita bisa melihat rusa dan burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). TNBB adalah sebuah paket lengkap sebagai sarana konservasi, edukasi, maupun pariwisata.

0 FacebookTwitterPinterestEmail

Siapa yang tidak pernah mendengar sapaan khas Sawadee Khap yang berarti halo dalam Bahasa Thai? Thailand negara di Asia Tenggara dengan pendapatan tertinggi dari industri pariwisata. Pada tahun 2019 saja, Thailand hampir mendapat kunjungan 40 juta wisatawan mancanegara. Sebagai negara tropis, Thailand adalah penghasil buah-buahan seperti durian, nangka, mangga, kelapa, manggis, dan pisang. Kota seperti Bangkok mempunyai cuaca yang relatif lembap dengan suhu tertinggi mencapai 40.8 °C. Suasanya kota mirip seperti Jakarta dengan didominasi gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan. Sesekali kita akan menjumpai kuil-kuil Budha seperti Grand Palace dan Wat Arun.

0 FacebookTwitterPinterestEmail

Paras paros is based on that humans are social creatures. It is the value used in the community, democracy, and togetherness. The spirit must be implemented in our daily lives, in society, or as a nation. Sagilik-Saguluk Salunglung Sabayantaka, Paras-Paros Sarpanaya, Saling Asah, Asih, Asuh means unity, tolerance, and helping each other. To achieve their goals, humans need the presence of another human being. This is often called Jagadhita which means prosperity, well-being, and blessedness. This is the value that had been lost  during globalization and needs to be resurrected again.

0 FacebookTwitterPinterestEmail

Without a doubt, Legong Lasem is the most well-known among other dances in Bali. Many believe this dance was created around Peliatan, Ubud. For decades, it has been a symbol of Bali tourism. The most iconic performance can be seen at Balerung Stage, Peliatan.

It tells a story about the unrequited love of The King of Lasem to a princess, Rangkesari. The dance was inspired when the reigning king, Dewa Agung Made Karna did ascetic in Pura Payogan Agung, Ketewel. He saw angels dance beautifully.

0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts