Coco (2017) (Movie Review): Mengenal Budaya Meksiko

by Ni Luh Putu Hendiliana Dewi

Coco, film animasi garapan Disney-Pixar ini cukup menarik perhatian publik menjelang penghujung 2017 silam. Sejak pertama kali dirilis, film animasi belatar belakang Meksiko ini mendapat rating 8.4/10 dari situs IMBD.

Bahkan, beberapa orang menilai bahwa ini adalah salah satu film animasi terbaik yang pernah ia tonton. Bagi Anda yang belum menonton dan sekaligus tidak ingin kena spoiler, sekali lagi diingatkan untuk segera tekan tombol kembali di halaman browser Anda 😉

photo : flickr.com

Sejak detik pertama hingga menit ke-21, mungkin ada beberapa pertanyaan dan kegelisahan yang muncul di benak Anda.

“Ini saya nggak salah masuk studio kan?”

“Apa kaitannya Frozen dengan Coco?”

“Kok Coco-nya nggak mulai-mulai?”

Kegelisahan-kegelisahan sedemikian akan muncul ketika film pendek dengan latar belakang penuh salju muncul di hadapan para penonton Coco. Film ini dibuka oleh film pendek bersurasi sekitar 21 menit yang menceritakan tokoh Olaf, si boneka salju dari film Frozen. Namun sayangnya, pro, kontra dan dugaan-dugaan terkait penyisipan film pendek inipun bermunculan.

Beranjak ke film Coco

Setelah 21 menit bersenang-senang dengan si boneka salju, akhirnya kisah perjalanan Coco dimulai. Adegan dibuka dengan siluet keluarga Coco di masa lalu. Saat itu Coco kecil hanya diasuh oleh sang ibu, karena Ayahnya diduga pergi meninggalkan keluarganya demi karir bermusik. Semenjak itulah, keluarga Coco menolak kehadiran musik, dan berlanjut sampai beberapa keturunan setelahnya.

Siapakah Coco Sebenarnya?

Tersirat dari judul filmnya yang secara gamblang menuliskan “Coco”, mungkin membuat beberapa orang berfikir bahwa Coco adalah anak laki-laki yang yang menjadi tokoh utama di film ini.

Ternyata salah besar!

Anak-laki-laki tersebut tiada lain adalah Miguel.

Coco adalah nenek buyutnya, yang sering dipanggil “Mama Coco”.

Miguel digambarkan sebagai sosok anak laki-laki yang memiliki minat dibidang musik. Ia sangat mengidolakan Ernesto de la Cruz, musisi legendaris yang sangat terkenal di Meksiko. Setting lokasi di Meksiko sangat jelas terlihat di film ini, bahkan film ini terbilang cukup berhasil mengangkat kebudayaan Meksiko, Dia de Meurtos. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Meksiko untuk menghormati dan mengenang anggota keluarga yang telah tiada.

Dia de Meurtos diilustrasikan dengan deretan foto-foto keluarga yang tersusun rapi dalam ruangan khusus bernama Ofrenda. Disinilah konflik di film ini bermula. Miguel menyadari adanya kejanggalan pada foto keluarga Mama Coco yang tidak lengkap. Foto sang ayah tersobek dan hanya gambar gitarnya yang nampak dengan jelas.

Jembatan antara alam kehidupan dan kematian

Dikisahkan, keinginan Miguel untuk mengikuti kontes musik ditolak oleh keluarganya. Lebih parahnya lagi, satu-satunya gitar yang ia milikipun dihancurkan. Namun Miguel tidak kehabisan akal. Ia bergegas ke makam de la Cruz dan meminjam gitar yang ikut semayamkan disana.

Ketika gitar itu disentuh, Miguel seketika masuk ke dunia orang mati atau Land of Death bersama dengan anjing jalanan yang sedang bersamanya saat itu.

Miguel tampak sangat aneh saat berada di sana karena wujudnya yang masih manusia, diantara barisan rangka-rangka hidup. Untuk dapat kembali ke alam manusia, ia harus mendapat restu atau berkat dari salah satu keluarganya. Namun, Miguel mendapat syarat khusus yakni tidak boleh bermain musik lagi dan langsung saja dilanggar saat dia sampai di alam manusia.

photo : flickr.com

Apa yang terjadi?

Tentu saja Miguel kembali lagi ke dunia orang mati. Ia mencari Ernesto de la Cruz yang diyakini sebagai anggota keluarga yang akan memberikan berkat padanya. Keyakinan itu bermula saat dia melihat potongan foto di keluarga Mama Coco yang memperlihatkan gitar yang sama persis seperti gitar de la Cruz. Namun di tengah perjalanan, ia bertemu Hector yang mengaku kenal dengan de la Cruz. Dia adalah sosok laki-laki yang hampir dilupakan oleh keluarganya. Kemudian, sebagai imbalannya, Hector meminta Miguel untuk meletakkan fotonya di Ofrenda keluarganya.

Akan sedikit saya percepat

Alur dari film ini memang sangat tidak terduga

Tanpa disangka-sangka, sosok de la Cruz yang sangat diidolakan oleh Miguel tak lebih hanya seorang pencuri dan penipu. Seluruh karyanya sebenarnya adalah milik Hector, rekannya yang dibunuh di masa lalu. Hector pun baru mengetahui kenyataan itu, karena dia pikir dirinya mati karena tersedak sosis, namun ternyata dia diracuni oleh rekannya sendiri.

Hector telah kehilangan banyak hal. Keluarganya membencinya, bahkan anaknya mulai melupakannya. Akibatnya Hector mulai memudar dan hampir lenyap secara permanen dari dunia orang mati. Namun, setelah mengetahui kenyataannya, Imelda (istri Hector) dan keluarga yang lain membantunya untuk membongkar kejahatan de la Cruz di hadapan khalayak. Adegan digambarkan dengan ditayangkannya rekaman de la Cruz secara diam-diam di belakang panggung bersama Hector. Karena kejadian itu, khalayak pun berbalik membenci de la Cruz.

Remember Me

Sebelum masanya berakhir, akhirnya Miguel dapat kembali ke alam manusia dan bertemu Coco. Awalnya dia hanya diam, sampai akhirnya Miguel menyanyikan lagu “Remember Me” yang diciptakan Hector untuknya. Dia kemudian ikut bernyayi dan kembali dapat berbicara serta mengingat keluarganya. Dia pun mengeluarkan bagian foto yang hilang yakni Hector. Adegan ini banyak menguras emosi penonton, karena sangat mengharukan.

Film ini ditutup dengan berkumpulnya seluruh keluarga Miguel baik yang masih hidup maupun meninggal. Mereka bernyanyi dan menari bersama-sama. Ini menandakan kembali diterimanya musik di keluarga ini.

Film ini mengingatkan tentang banyak hal. Tentang keluarga, mimpi dan perjuangan. Balutan budaya Meksiko menambah poin plus bagi film ini. Alur cerita menjadi semakin menarik dan film ini berhasil mengangkat kebudayaan lokal Meksiko ke kancah dunia.

“Never forget how much your family loves you” – Imelda

Baca juga: Frozen 2 Review: Sebuah Petualangan Berbahaya

You may also like

This website uses cookies to improve your experience. Accept