Coldplay: Karya Alternative Terbaik Terbaik

by I Wayan Juliandika

Coldplay menjadi salah satu band terbesar di dunia pada dekade ini. Venue konsernya selalu dipadati puluhan ribu penonton ketika band ini menggelar tur dunia. Lagu-lagunya yang easy listening namun tetap berkualitas membuat band ini mempunyai banyak penggemar.

Awal Kemunculan

Pada tahun 1996, Chris Martin bertemu dengan Jonny Buckland saat masa orientasi siswa ketika berkuliah University of College London. Tidak lama kemudian bergabunglah Guy Berryman dan Will Champion untuk melengkapi formasi band ini. Pada awalnya mereka menamakan group ini dengan Strafish, sebelum kemudian diganti menjadi Coldplay.

Tidak banyak yang tahu ternyata Coldplay juga mempunyai ‘the fifth member’, istilah yang mereka berikan untuk sang manager, Phil Harvey. Harvey mempunyai jasa besar mengorbitkan album-album Coldplay yang fenomenal. Tidak hanya itu, Harvey juga sekaligus menjadi creative director dari setiap tur dunia mereka yang megah. Pada konser Coldplay Live 2012 para penontonnya menggunakan gelang bercahaya bernama Xylobands. Kemungkinan besar ini adalah ide kreatif dari Phil Harvey.

Selain Phil Harvey, banyak sosok ‘sakti’ di belakang layar yang mendukung kesuksesan band ini pada masa debut Coldplay. Sebut saja Ken Nelsons. Ken Nelsons adalah sosok penting yang memproduseri tiga album Coldplay di awal kemunculan mereka, Parachutes; A Rush of Blood to the Head; dan X&Y. Ketiga album ini meledak di pasaran dan menjadikan Coldplay sebagai salah band dengan basis fans yang banyak. Siapa yang tidak mengenal hits Fix You, Clocks, atau Yellow? Di bawah label Parlophone, Coldplay berhasil menjual jutaan kopi album mereka ke seluruh dunia. Para kritikus banyak mengatakan bahwa album mempunyai kemiripan dengan gaya bermusik U2, Oasis, dan Radiohead. Ketika ditanyakan hal ini, sang vokalis Chris Martin pun tidak menampik bahwa genre yang diusung bandnya mempunyai kemiripan dengan musisi tersebut.

Tidak hanya sukses secara komersial, karya-karya mereka juga diakui oleh para kritikus. Mereka berjaya di Grammy Awards dengan menyabet beragam nominasi penghargaan seperti Best Alternative Music Album, Best Rock Song, Best Rock Performance atau Record of the Year.

Viva la Vida or Death and All His Friends dan Mylo Xyloto

Sulit rasanya untuk memisahkan Coldplay dengan Brian Eno, sang produser. Eno adalah musisi bertangan dingin yang memproduseri album Viva la Vida or Death and All His Friends. Eno memberikan warna baru pada album ini dengan “memaksa” para personil Coldplay mengekplorasi musikalitas mereka. Eno secara jenius memasukkan elemen string dan orkestra yang membuat lagu ini terdengar “mahal”. Alhasil, album ini menandai puncak kesuksesan Coldplay di industri musik dunia. Viva la Vida or Death and All His Friends berhasil terjual 10 juta copy dan menjadi album terlaris pada tahun 2008. Para kritikus musik juga menyambut karya ini dengan positif. Coldplay meraih Grammy untuk kategori Best Rock Album. Tidak hanya itu, album ini juga dinominasikan sebagai Album of the Year meskipun tidak menang. Lead single dari album ini, Viva la Vida, berhasil meraih penghargaan untuk kategori Song of Year. Coldplay memang sangat berjaya pada Grammy edisi tahun 2009.

Sukses dengan Viva la Vida, Coldplay kembali menelurkan album yang bertajuk Mylo Xyloto. Kali ini mereka kembali duet dengan sang produser Brian Eno. Meskipun demikian, Rik Simpson lah yang menjadi lead produser di album ini bersama sama dengan Markus Dravs. Album ini pun terbilang laris manis di pasaran. Hits single seperti Paradise dan Every Teardrop is a Waterfall merajai tangga lagu musik dunia. Brian Eno berhasil memberi warna baru pada album dengan genre musik yang lebih eksperimental. Setelah perilisan Mylo Xyloto, Coldplay melakukan tur dunia yang bertajuk Coldplay Live 2012.

Ghost Stories, A Head Full of Dreams, Everyday Life

Pada album Ghost Stories (2014) Coldplay mulai mengikuti tren musik elektronik yang ada pada saat itu. Coldplay menambahkan genre eletronica dan synth-pop seperti pada lagu A Sky Full of Stars yang berkolaborasi dengan Avicii. Banyak yang menilai album ini terdengar lebih ringan dan akustik. Ghost Stories diracik oleh trio produser handal mereka: Jon Hopkins, Daniel Green, dan Rik Simpson. Sedikit trivia, Jon Hopkins adalah orang yang pernah menggarap album Adele.

Berlanjut ke album A Head Full of Dreams yang semakin menunjukkan kematangan Coldplay dalam bermusik. Coldplay kembali ke genre asalnya yaitu alternative namun dengan nuansa yang lebih fresh dan kekinian. Overall, lagu-lagu pada album ini memberikan nuansa positif yang bersemangat seperti: A Head Full of Dreams, Hymn for the Weekend, Adventure of a Lifetime, ataupun Up & Up. Album ini memiliki EP (extended play) yang berkolaborasi dengan The Chainsmokers dalam single Something Just Like This. Pada album ini Coldplay seakan meninggalkan sejenak ciri khas suara piano yang mellow, digantikan dengan lagu-lagu membuat pendengar berdisko.

Pada tahun 2019, Coldplay album studio kedelepan mereka yang diberi tajuk Everyday Life. Para kritikus menilai album ini sangat kontras dengan warna musik mereka di awal kemunculannya. Di sini banyak dimasukkan nuansa Timur Tengah yang mungkin adalah bentuk kepedulian Chris Martin dengan permasalahan sosial yang ada di sana. Seperti video musik track Orphan yang mengambil setting di Yordania. Melalui album ini, Coldplay kembali masuk nominasi Album of the Year pada Grammy 2021.

Coldplay telah merilis delapan album studio sejak kemunculannya pertama kali. Sepertinya sudah cukup pantas ya jika kita buatkan list lagu-lagu yang kira-kira memorable di benak para penggemar. Berikut adalah lagu terbaik Coldplay yang tentu saja merupakan opini pribadi penulis.

coldplay
Personel Coldplay dalam sebuah konser

Life in Technicolor II (2009 – Prospekt’s March EP)

Video Musik Life in Technicolor II Menggunakan Boneka yang Mewakili Setiap Personel Coldplay

Life in Technicolor II masuk dalam album extended play (EP) yang diberi judul Prospekt’s March. Album EP ini merupakan kelanjutan dari album Viva la Vida or Death and All His Friends. Life in Technicolor II merupakan versi lagu yang lengkap dengan vokal dari versi lagu ini sebelumnya – Life in Technicolor – yang hanya berupa instrumental.

Up with the Birds (2012 – Mylo Xyloto)

Up With The Birds dari Album Mylo Xyloto

Track ini menjadi lagu penutup (credit scene) pada film dokumenter konser mereka, Coldplay Live 2012. Lagu ini mempunyai nuansa yang menenangkan dengan dominasi suara piano. Komposisinya terdengar sederhana namun memberikan atmosfer ambient yang tidak bisa dijelaskan. Tidak banyak yang mengenal lagu ini karena memang bukan merupakan single andalan di album Mylo Xyloto. But try to listen this song in middle of night, and you will find the peaceful atmosphere that you never feel before.

Strawberry Swing (2009 – Viva la Vida or Death and All His Friends)

Video Musik Strawberry Swing

Strawberry Swing merupakan track terakhir yang dirilis dari album Viva la Vida or Death and All His Friends. Dalam lagu ini terdapat unsur musik pop Afrika dan musik highlife. Secara umum lagu didominasi oleh suara gitar dengan melodi balada yang manis. Lagu ini pernah dibawakan pada acara Paralimpiade Musim Panas 2012 yang berlangsung di London.

Clocks (2002 – A Rush of Blood to the Head)

Video Musik Clocks

Lagu ini berhasil masuk ke dalam 500 lagu terbaik versi Rolling Stone. Clocks adalah salah satu karya yang paling monumental dan kompleks dari sisi komposisi musik terutama pianonya. Menurut pendapat pribadi penulis, ciri khas Coldplay ada pada lagu Clocks. Clocks telah berumur hampir 20 tahun setelah perilisannya namun tetap saja relevan didengarkan sampai sekarang.

Amsterdam (2002 – A Rush of Blood to the Head)

Chris Martin memainkan lagu Amsterdam pada sesi Konser Live in Amsterdam

Amsterdam merupakan salah satu single dari album A Rush of Blood to the Head. Seperti lagu lainnya di album ini, Amsterdam didominasi oleh suara piano. Pada lagu ini juga sangat terlihat vokal Chris Martin yang banyak menggunakan falsetto. Bersama dengan Clocks, Amsterdam adalah salah satu single terbaik dari album ini.

Don’t Panic (2001 – Parachutes)

Klip Video Don’t Panic dari Coldplay

Pasti banyak pembaca yang sudah mengenal lagu Yellow yang fenomenal dari album Parachutes. Namun masih banyak single dari album ini yang patut diapresiasi seperti Don’t Panic. Don’t Panic adalah track keempat dari album Parachutes yang menandai awal kemunculan Coldplay di industri musik. Lagu ini terdengar “sederhana” karena lebih bisa dimainkan dengan instrumen akustik seperti gitar. Don’t Panic bukanlah track unggulan di album ini namun tetap disambut positif oleh penikmat musik dunia.

Speed of Sound (2005 – X&Y)

Musik Video Speed of Sound

Speed of Sound adalah single yang harus didengar selain Fix You di album X&Y. Seperti lagu Coldplay kebanyakan, single ini didominasi oleh alunan piano yang epik dari Chris Martin. Para kritikus yang membandingkan single ini dengan Clocks karena kompisisi pianonya yang sangat grande.

Birds (2016 – A Head Full of Dreams)

Track Birds diambil dari album A Head Full of Dreams. Birds memberikan nuansa yang upflitting dan bersemangat. Lagu memang sedikit underrated dibandingkan dengan track lainnya di album ini.

Up&Up (2016 – A Head Full of Dreams)

Coldplay sepertinya mendedikasikan album A Head Full of Dreams untuk menyebarkan atmosfer positif. Up&Up berkolaborasi dengan beberapa musisi kenamaan seperti Beyonce dan Notel Gallagher. Beyonce beserta anaknya Blue Ivy ikut menyumbangkan suara pada lagu ini. Tidak hanya itu, gitar solo yang ada pada lagu ini ternyata dimainkan oleh Noel Gallagher. Video musik lagu ini juga digarap secara kreatif dengan menggunakan efek visual yang istimewa.

Orphans (2019 – Everyday Life)

Orphans dapat diartikan sebagai seorang anak tidak mempunyai orang tua. Lagu ini bercerita tentang peperangan di Timur Tengah di mana banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya atau bahkan menjadi korban dari peristiwa itu sendiri. Tersirat dalam intro lagu ini.

Boom boom ka, buba de ka

Orphans, 2019

Boom atau ledakan adalah suara bom yang ditimbulkan dari peperangan. Meskipun lagu ini mempunyai nuansa ceria, namun ternyata sarat pesan sosial yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Hal itu secara gamblang tersurat pada lirik:

Rosaleen of the Damascene
Yes, she had eyes like the moon
Would have been on the silver screen
But for the missile monsoon

Rosaleen adalah nama seorang gadis tinggal di ibukota Suriah, Damaskus (Damascene). Rosaleen dideskripsikan mempunyai mata yang indah seperti bulan (She had eyes like the moon ). Suriah telah menjadi daerah konflik yang banyak menewaskan banyak anak-anak, termasuk Rosaleen.

You may also like