Deprecated: Hook custom_css_loaded is deprecated since version jetpack-13.5! Use WordPress Custom CSS instead. Jetpack no longer supports Custom CSS. Read the WordPress.org documentation to learn how to apply custom styles to your site: https://wordpress.org/documentation/article/styles-overview/#applying-custom-css in /home/u5710877/public_html/wp-includes/functions.php on line 6078
Siap-Siap Terpukau, Indonesia Surganya Alam Bawah Laut - raré angon

Siap-Siap Terpukau, Indonesia Surganya Alam Bawah Laut

by admin

Tahukah Anda tentang Kawasan Konservasi Perairan?

Dalam istilah global, kawasan ini disebut sebagai MPA (Marine Protected Area). Dalam manajemen wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia ia disebut sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Secara global, menurut data dari Coral Triangle Center, KKP hanya mencakup sekitar 2% dari lautan di dunia dan kurang dari 3% lautan di wilayah Segitiga Terumbu Karang yang dilindungi dengan membentuk MPA.

Menurut IUCN (1994) Kawasan Konservasi Perairan adalah perairan pasang surut, dan wilayah sekitarnya, termasuk flora dan fauna di dalamnya, dan penampakan sejarah serta budaya, yang dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif, untuk melindungi sebagian atau seluruh lingkungan di sekitarnya. Selain itu, menurut Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 kawasan konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara keberlanjutan.

Ekosistem laut di Raja Ampat, Indonesia. Foto : Alex Mustard

Pembentukan KKP di Indonesia dapat semakin meningkatkan kinerja sektor kemaritiman Indonesia. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia (95.181 km) setelah Kanada dan juga bagian dari Wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle Region). Sebagai negara maritim, sebagian masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut dan pesisir sehingga upaya pelestarian wilayah laut menjadi sangat vital.

Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia

Pengelolaan KKP di Indonesia saat ini berada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan setelah sebelumnya berada di bawah tanggung jawab Kementerian Kehutanan. Disadur dari laporan Coral Triangle Initiative, upaya konservasi sudah dilakukan sejak zaman dahulu melalui kearifan lokal setempat seperti panglima laut di Aceh, lubuk larangan di Sumatera, kelong di Batam, mane’e di Sulawesi Utara, sasi di Maluku dan awig-awig di Lombok. Sedangkan keberadaaan Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia baru diinisiasi sejak tahun 2001. Berdasarkan data dari KKP RI, pada tahun 2018 Indonesia sudah memiliki 177 KKP seluas 20.88 juta hektar yang tersebar di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan luasan KKP pada tahun 2030 mencapai 30 juta hektar.

Capaian KKP tahun 2018. Sumber : Kementarian Kelautan dan Perikanan RI

Namun, tidak semua wilayah perairan dapat dikategorikan sebagai Kawasan Konservasi Perairan. Huffard et al. dalam Coral Triangle Initiative melakukan identifikasi terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk diprioritaskan sebagai KKP. Huffard membagi wilayah Indonesia menjadi 12 ekoregion yang membentang dari Papua sebagai ekoregion 1 (prioritas paling tinggi) hingga ke Selat Malaka sebagai ecoregion 12 (prioritas paling rendah). Indonesia bagian tengah hingga ke timur mendapatkan prioritas paling tinggi. Hal ini dapat dikarenakan karena wilayah ini merupakan wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang memiliki kekayaan terumbu karang dan hewan laut yang paling kaya, dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Kriteria Kawasan Konservasi Perairan

Adapun kriteria pembentukan KKP di Indonesia mengacu pada Pasal 9 ayat (1) PP No.60 tahun 2007 tentang tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, Kawasan Konservasi Perairan. Menurut peraturan tersebut, suatu kawasan dikatakan sebagai Kawasan Konservasi Perairan jika memnuhi kriteria sebagai berikut:

a. Ekologi, meliputi keanekaragaman hayati, kealamiahan, keterkaitan ekologis, keterwakilan, keunikan, produktivitas, daerah ruaya, habitat ikan langka, daerah pemijahan ikan, dan daerah pengasuhan;

b. Sosial dan budaya, meliputi tingkat dukungan masyarakat, potensi konflik kepentingan, potensi ancaman, kearifan lokal serta adat istiadat; dan

c. Ekonomi, meliputi nilai penting perikanan, potensi rekreasi dan pariwisata, estetika, dan kemudahan mencapai kawasan.

Pengelolaan KKP dikelompokkan kembali menjadi empat jenis yaitu Taman Nasional Perairan (TNP), Suaka Alam Perairan), Taman Wisata Perairan (TWP) dan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD). Misal saja di Maluku Utara, dilansir dari mongbay.co.id, baru-baru ini Maluku memiliki tiga kawasan konservasi perairan baru yaitu di Kepulauan Sula, Rao-Dehegila dan Pulau Makian. Melalui kerjasama dengan pemerintah Amerika melalui program USAID sebagai buah dari 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Amerika Serikat. USAID mendukung visi Pemerintah Indonesia dalam pelestarian ekosistem laut yang salah satunya adalah melalui rencana tata ruang.

Sistem Zonasi Kawasan Konservasi Perairan

Salah satu poin penting dalam manajemen KKP adalah pada sistem tata ruangnya yang dicerminkan dalam bentuk sistem zonasi. Menurut Coral Triangle Initiative, zonasi kawasan konservasi perairan merupakan bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan ekosistem. Berdasarkan PP No.60 tahun 2007 Pasal 17 ayat 4 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.17 tahun 2008 Pasal 32, sistem zonasi KKP dibagi menjadi empat wilayah yaitu zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan, dan zona lainnya seperti pada contoh peta berikut :

Zonasi KKP di Belitung Timur. Sumber : DKP Bangka Belitung

a. Zona Inti, merupakan area yang paling memegang peranan dalam upaya pelestarian KKP yaitu sebagai kawasan lindung. Kegiatan di kawasan ini sangat dibatasi terutama kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam secara langsung, kecuali untuk kebutuhan riset dan pendidikan.

b. Zona Perikanan Berkelanjutan, merupakan area yang memiliki fungsi budidaya (pemanfaatan) namun hanya sebatas untuk kegiatan perikanan. Kegiatan perikanan yang diizinkan di wilayah ini dapat berupa perikanan tangkap dengan tetap mengutamakan fungsi perlindungan.

c. Zona Pemanfaatan, merupakan area yang memiliki fungsi budidaya (pemanfaatan) lebih luas daripada zona perikanan. Kegiatan pemanfaatan ruang di kawasan ini mencakup kegiatan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pariwisata bahari yang mengutamakan perlindungan kondisi habitat sumber daya.

d. Zona Lainnya, merupakan area yang memiliki fungsi budidaya (pemanfaatan) terbatas sesuai dengan potensi yang ada dan diluar kegiatan-kegiatan yang telah dinyatakan sebelumnya.

Nusa Penida, Salah Satu KKP Ikonik di Pulau Dewata

Tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan nama Nusa Penida. Wilayah disebut-sebut memiliki masa lalu yang cukup kelam kita amat padat dikunjungi oleh wisatawan. Walaupun lahannya yang gersang, hawa yang panas, gugusan pulau-pulau kecil ini dianugerahi kekayaan laut yang spektakuler. Orang-orang dari penjuru dunia berbondong-bondong untuk melihat keindahan terumbu karang bahkan hewan laut karismatik seperti Mola dan Pari Manta yang selalu menjadi incaran para penyelam.

photo: pexels

Sejak tahun 2010, Nusa Penida dijadikan sebagai kawasan konservasi melalui Surat Keputusan Bupati Klungkung. Keanekaragaman hayati yang sedemikian indahnya perlu mendapat perlindungan, terlebih di tengah perkembangan arus pariwisata.

Contoh peta zonasi KKP Nusa Penida, Bali
Sumber : coraltrianglecenter.org

Setelah resmi menyandang status sebagai kawasan konservasi, bukan berarti Nusa Penida benar-benar bersih dari aktivitas pariwisata. Keberadaan Kawasan Konservasi Perairan tidak begitu saja melarang segala aktivitas masyarakat maupun wisatawan. Wilayah ini telah diatur sedemikian rupa melalui sistem zonasi yang mengatur area-area mana saja yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan aktivitas.

Zona inti atau zona berwarna merah merupakan zona-zona yang sangat terbatas untuk aktivitas manusia. Ada beberapa kondisi yang dipertimbangkan untuk menjadikan suatu wilayah sebagai zona ini. Salah satunya adalah karena wilayah tersebut menjadi tempat pemijahan (perkembangbiakan ikan), sehingga hanya aktivitas tertentu seperti penelitian saja yang diijinkan.

Sistem zonasi di KKP juga Penida juga memiliki keunikan yang belum ditemukan di KKP lain di Indonesia. Terdapat beberapa zona suci yang mengakomodir nilai-nilai kearifan lokal setempat khususnya budaya Hindu Bali. Zona ini paling mencolok membantang di sepanjang perairan Pura Dalem Ped yang merupakan salah satu pura penting di Bali.
Simak video berikut untuk mengenal lebih dalam tentang KKP Nusa Penida.

Pembentukan Kawasan Konservasi Perairan atau Marine Protected Area memang tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan semua permasalahan di kawasan pesisir dan laut di dunia. Dibutuhkan komitmen dan kerjasama yang baik antar pemangku kepentingan dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga wilayah pesisir dan laut sebagai aset negara Indonesia yang bercita-cita untuk menjadi poros maritim dunia di masa depan.

Beberapa bagian artikel disadur dari tulisan penulis di yourbanworld.com

You may also like