Mark Manson adalah seorang blogger dan penulis. Bukunya yang berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck atau Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat merupakan kompilasi dari artikel di blog-nya. Karyanya ini masuk ke dalam daftar New York Times Best Seller.

mark-manson-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat
Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

The Subtle Art of Not Giving a F*ck atau Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Judul yang sangat kasar untuk sebuah buku. Tapi Mark Manson doesn’t give a f*ck. Bukan Mark namanya jika tidak menggunakan bahasa yang vulgar dan out of the box. Penuturan yang apa adanya adalah kekuatan buku ini. Mark Manson banyak mengalami pengalaman pahit dalam hidupnya yang di kemudian hari pengalaman tersebut bisa menjadi konten menarik untuk tulisan.

Buku ini berawal dari blog yang berisi artikel self-help yang dirintisnya beberapa tahun lalu.

The Subtle Art of Not Giving a F*ck menggebrak buku self-help yang ada di industri saat ini. Mark mengganggap buku self-help yang beredar sekarang ini terlalu klise. Orang-orang membaca buku jenis ini karena ingin menyelesaikan permasalahan yang ada dalam hidupnya. Salah satu contohnya adalah membuat orang untuk selalu berpikir positif (positive mental attitude) bagaimana pun permasalahan yang dihadapi. Seakan-akan masalah itu tidak ada sama sekali. Di sini Mark Manson mencoba menggunakan sudut pandang yang berbeda. Melalui tulisannya, Mark Manson menegaskan bahwa permasalahan adalah hal yang normal dalam kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpa masalah. Menurut penelitian, orang yang pernah tertimpa permasalahan berat, secara mental justru akan lebih kuat, dan yang paling mengejutkan adalah menjadi lebih bahagia.

Keunikan buku ini membuatnya melambung dan menjadi daya tarik.

Gaya Bahasa Mark Manson yang Gaul, Humoris, dan Tidak Bertele-Tele

Mark mempunyai gaya menulis yang khas. Tulisan ini banyak menggunakan kata-kata slang khas Amerika. Penuturannya juga sederhana bukannya menjadi kekurangan namun membuat penyampaian pesannya menjadi sangat to the point.

Sebagian besar isi dari buku ini sangat berbeda dari paradigma masyarakat kebanyakan. Sebagai contoh, ketika masyarakat mengukur kesuksesan dengan hal-hal materialistis, Mark mencoba ‘menyadarkan’ kita dengan sudut pandang yang berbeda. Hal-hal material itu baik, namun akan berbahaya ketika menjadi satu-satunya pusat kebahagiaan. Misalnya saja menggunakan tindak kejahatan untuk memperoleh kekayaan.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat mempunyai konten yang segar dan tidak klise. Buku ini mendobrak paradigma yang umum di masyarakat kita, entah itu tentang kesuksesan, percintaan, dan kehidupan itu sendiri.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Kurang lengkap rasanya juka review ini tidak membahas artikel yang dijadikan judulnya. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat merupakan salah satu artikel yang mungkin paling banyak dibaca di blog-nya. Energi kita kadangkala habis karena terlalu marah atau memperhatikan hal yang sebenarnya kurang penting. Misalnya saja, petugas POM bensin banyak memberi kembalian recehan, acara TV yang tidak jadi tayang di TV, ataupun teman kantor yang tidak menanyakan betapa menyenangkannya akhir pekan. Terlalu banyak memperhatikan hal-hal yang kurang penting, membuat kita lupa akan hal-hal yang sebenarnya penting dalam hidup kita. Itulah kenapa Mark menyarankan untuk lebih baik bersikap bodo amat. Fu*k don’t grow on tree, begitulah kata dia.

Jika rajin membaca blog-nya, mungkin buku ini menjadi sedikit tidak relevan. Hal ini dikarenakan buku ini memang kumpulan-kumpulan artikel yang ada di dalam blog-nya. Namun, jika ingin mendapatkan versi artikel dalam Bahasa Indonesia, buku ini sangat layak dijadikan koleksi.

You may also like