Deprecated: Hook custom_css_loaded is deprecated since version jetpack-13.5! Use WordPress Custom CSS instead. Jetpack no longer supports Custom CSS. Read the WordPress.org documentation to learn how to apply custom styles to your site: https://wordpress.org/documentation/article/styles-overview/#applying-custom-css in /home/u5710877/public_html/wp-includes/functions.php on line 6078
Mumford & Sons: Karya Folk Terbaik Terbaik - raré angon

Mumford & Sons: Karya Folk Terbaik Terbaik

by admin

Mumford & Sons seketika menjadi fenomena ketika merilis debut album mereka yang bertajuk Sigh No More. Band ini mengusung genre yang tidak populer yaitu folk rock. Di luar dugaan ternyata karya mereka cukup bisa diterima oleh masyarakat. Marcus dan kawan-kawan langsung meraih nominasi utama Grammy Awards seperti Record of the Year dan Song of the Year untuk lagu The Cave dan nominasi Best New Artist. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk musisi yang mengusung genre unik di tengah dominasi musik pop masih merajai saat itu. Berikut adalah enam karya terbaik terbaik mereka.

mumford-sons
Band folk rock asal Inggris, Mumford & Sons beranggotakan Marcus Mumford, Ben Lovett, Winston Marshall, dan Ted Dwane

Winter Winds

Video Musik Winter Winds dari Mumford Sons

Winter Winds merupakan single kedua yang dirilis dari album Sigh No More. Single ini dirilis pada awal Desember 2009 untuk menyambut libur Natal. Meskipun Winter (musim dingin) adalah metafora dari suasana kelabu namun lagu ini tetap bernuansa ceria.

Winter Winds menceritakan tentang kegalauan seseorang apakah dia harus tetap bertahan dalam sebuah hubungan. Sendunya musim dingin membuat hatinya ‘kesepian’ sehingga membutuhkan seorang kekasih untuk menemani.

As the winter winds litter London with lonely hearts

Oh the warmth in your eyes swept me into your arms

Was it love or fear of the cold that led us through the night?

For every kiss your beauty trumped my doubt

Mumford & Sons

Namun, dalam lubuk hati terdalamnya dia tidak mencintai pasangannya itu. Ini tersirat dalam penggalan lirik.

And my head told my heart

Let love grow

But my heart told my head

This time no

This time no

Mumford & Sons

Lovers of The Light

Lovers of the Light Ditampilkan dalam Sebuah Sesi Live di Afrika Selatan

Lovers of The Light merupakan single kedua dari album Babel. Single ini mempunyai komposisi yang apik sebagaimana lagu-lagu lainnya di album Babel. Konsep video musik single ini pun dikemas secara unik. Dibintangi dan disutradarai aktor kawakan Idris Elba, menjadikan video musik ini semakin istimewa. Idris Elba memerankan seorang pria tuna netra. Meskipun tidak dapat melihat, Elba dengan fasih melakukan aktivitas sehari-hari setelah bangun tidur. Tidak ada keraguan dalam diri sang aktor dalam beraktivitas seperti menyiapkan sarapan, mencuci muka, ataupun berpakaian. Semua layaknya orang dewasa normal.

Klimaks video musik terjadi ketika Elba mengambil tongkat tunanetra dan bersiap-siap keluar rumahnya. Menyadari dirinya tunanetra, ia merasakan lonjakan emosi luar biasa. Elba kemudian berlari menyusuri hutan sampai pada akhirnya pada di sisi tebing. Dengan indera yang dimilikinya ia tepat dapat berdiri di sisi tebing tanpa terjatuh. Penonton seakan diberi kebebasan untuk menginterpretasikan maksud dari video musik ini.

Woman

Woman dalam Sebuah Sesi Live

Woman adalah salah satu track dengan melodi terindah pada album Delta. Woman mempunyai dua video musik. Video yang pertama dibintangi oleh Yeman Brown and Stephanie Crousillat. Ide video musik ini berasal dari gitaris mereka, Winston Marshall. Marshall melihat penampilan Brown pada video musik Beyonce yang berjudul “Halo”. Video musik Beyonce tersebut membuatnya sedikit menitikkan air mata. Dia tidak menyangka penampilan Brown membuatnya merasa seperti itu.

Video musik yang kedua bekerja sama dengan National Geographic. Ide ini awalnya muncul ketika Mumford cs merekam track di album sambil melihat beberapa tayangan tentang alam liar dari National Geographic. Alhashil, lagu ini menjadi semakin indah dipadukan dengan video dokumenter National Geographic yang sinematik. Menurut juru bicara National Geographic, kerjasama dengan Mumford and Sons bertujuan untuk agar orang lebih menghargai planet bumi dengan tidak merusaknya.

Babel

Penampilan Mumford & Sons dalam video musik “Babel” yang berkonsep hitam putih

Babel menjadi salah satu track andalan dalam album berjudul sama. Nuansa lagu ini didominasi oleh suara banjo dengan tempo yang cepat dan dinamis. Banyak yang menganggap bahwa lagu atau album bernuansa religi. Namun, dalam suatu kesempatan Marcus cs menampik hal ini. Dia mengatakan lagu ini tidak berkaitan dengan agama, tapi mempunyai pesan universal yang bisa diinterpretasikan sendiri oleh pendengarnya.

Babel adalah menara yang melambangkan keangkuhan atau kesombongan manusia yang berada kelas atas atau golongan borjouis. Namun lama kelamaan, dia menyadari bahwa hal-hal superfisial yang bersifat duniawai membuatnya menjadi rakus (greedy) seperti dalam lirik:

Like the city that nurtured my greed and my pride,
I stretched my arms into the sky
I cry Babel, Babel, look at me now
For the walls of my tower they come crumbling down

Orang ini tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki, dilambangkan dengan sky. Dia perlahan-lahan mengetahui bahwa sesungguhnya kebahagian berada ketika manusia memilik grace (ketulusan hati) dan menjadi dirinya sendiri. Suatu saat, dia ingin dilahirkan dengan tanpa topeng (without a mask) yaitu menjadi manusia yang jujur tanpa kepura-puraan. Seperti dalam lirik.

‘Cause I know my weakness, know my voice
And I’ll believe in grace and choice
And I know perhaps my heart is fast
But I’ll be born without a mask

Mumford & Sons telah belajar banyak dari album pertama mereka, Sigh No More. Instrumen lagu ini terasa lebih grande dan berenergi. Babel adalah satu track terbaik pernah diramu oleh Marcus cs. Melalui lagu ini, Mumford & Sons membuat musik folk yang awalnya terkesan jadul menjadi musik yang berkelas.

Sedikit trivia, Babel masuk ke dalam album yang bertajuk sama. Album ini ditangani oleh produser andal, Markus Dravs. Dravs adalah produser yang terlibat dalam album Coldplay (Viva la Vida or Death and All His Friends, Mylo Xyloto), Arcade Fire (The Suburbs, Reflektor), Björk (Homogenic), dan lainnya.

The Wild

The Wild mungkin adalah lagu yang paling sulit diinterpretasikan. Lagu ini menjelaskan konsep abstrak yang sering menjadi pertanyaan manusia seperti tentang keberadaan Tuhan. Seperti dalam penggalan lirik.

What’s that I see?

I think it’s the wild

Puts the fear of God in me

What’s that I see? (Apakah yang saya lihat?)

I think it’s the wild (Saya pikir itu adalah alam liar)

Puts the fear of God in me (Menempatkan rasa takut akan Tuhan dalam diriku)

Pada penggalan lirik ini penulis ingin mengatakan bahwa keberadaan Tuhan ada di sekitar kita, dalam hal ini adalah alam liar (the wild). Dalam banyak agama, disebutkan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan. Kemudian dia menyadari bahwa ciptaan tersebut merupakan wujud dari penciptanya sendiri. Hal tersebut pun membuatnya merasakan keberadaan Tuhan ketika melihat sekelilingnya. Dalam konteks ini penulis merasakan ketakutan akan Tuhannya (Puts the fear of God in me).

Marcus cs sangat serius menggarap lagu ini dengan menambahkan orkestra sebagai tambahan instrumen. Komposisi aransemennya sangat apik sehingga tercipta simfoni yang indah.

Believe

“Believe” Live dari Konser “Dust and Thunder” di Johannesburg

Believe menjadi lead single dari album ketiga mereka, Wilder Mild. Lagu ini memiliki nuansa yang cukup berbeda dari karya-karya sebelumnya. Instrumen lagu ini terdengar lebih modern seperti lagu pop rock pada umumnya yang didomanasi oleh gitar elektrik dan synth. Disukai atau tidak tapi beginilah transformasi musisi dalam bermusik. Memuncaki posisi 31 di Billboard Hot 100 menandai lagu ini cukup diterima oleh penikmat musik.

Para kritius menilai karya ini bercerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Tak jarang manusia memiliki rasa kesangsian telah dia percayai sejak lama pada suatu entitas. Mumford & Sons memang dikenal sering menyisipkan tema Kristiani ke dalam syair yang mereka tulis.

Guiding Light

Mumford & Sons dan London Contemporary Orchestra membawakan “Guiding Light”

Guiding Light diambil dari album terbaru mereka yang diberi judul Delta. Album keempat ini menandai kembalinya Mumford & Sons ke industri musik setelah vakum selama tiga tahun. Suara banjo tetap terdengar di lagu ini namun dalam komposisi yang tidak berlebihan. Pengalaman telah membawa mereka dalam kedewasaan dalam bermusik. Lagu ini terasa lebih emosional dibandingkan dengan karya-karya terdahulu mereka. Transisi quartet ini dari masa sulit sampai merilis album keeempat mereka menjadi inspirasi terciptanya lagu ini.

Track ini mengalir dengan tenang bahkan cenderung terasa agar datar. Namun uniknya, semakin didengarkan, emosi lagu ini terasa sangat tersampaikan dengan baik.

Mumford and Sons bahkan diundang untuk menyanyikan lagu ini ke acara BBC Radio 1 Live Lounge.

The Wolf

Penampilan The Wold dalam Sebuah Sesi Live

The Wolf terdengar rock n roll dan lebih bersemangat. Kita akan merasa bahwa Mumford & Sons adalah band yang sama sekali baru. Meskipun genre ini terdengar baru pada karya mereka, Mumford & Sons bisa mengeksekusinya dengan baik.

Little Lion Man

Penampilan Mumford and Sons membawakan “Little Lion Man”

Little Lion Man adalah single pertama yang dirilis pada album debut mereka yang bertajuk Sigh No More. Pada sebuah kesempatan, Marcus secara tersirat mengatakan bahwa lagu ini bercerita tentang rasa bersalahnya ketika gagal dalam membina hubungan asmara. Makna itu diperkuat pada lirik:

But it was not your fault but mine
And it was your heart on the line
I really fucked it up this time
Didn’t I, my dear?

Little Lion Man, Mumford and Sons

Secara teknis lagu ini didominasi oleh instrumen banjo yang terdengar sangat folk namun tetap catchy. Patut diakui bahwa Marcus Mumford, sang vokalis mempunyai karakter yang sangat kuat sehingga mampu mengimbangi suara instrumen sudah cukup “ramai”. Track ini mampu bertahan di posisi 45 selama 22 minggu di Hot Billboard 100. Prestasi yang cukup mengagumkan untuk sebuah debut single.

I Will Wait

Penampilan Mumford & Sons membawakan “I Will Wait” dalam
Live at the Lewes Stopover 2013

Berbekal pengalaman album pertama, Marcus cs semakin matang mempersiapkan album keduanya. Album ini bertajuk Babel dengan track andalan I Will Wait. Mumford & Sons tetap mempertahankan dominasi instrumen banjo yang telah menjadi signature mereka. Instrumental yang epik begitu harmoni dengan suara sang vokalis. Track ini menjadi salah lagu tersukses mereka yang mampu menembus posisi nomor 12 di US Billboard Hot 100 selama 39 minggu.

Secara gamblang, lagu ini dapat diinterpretasikan tentang hubungan percintaan yang tengah di ujung tanduk. Salah satu pihak tidak dapat memaksakan kelanjutan hubungan ini kecuali pasangannya memang menghendaki. Yang dia bisa lakukan adalah menunggu dan berharap romansa mereka bisa kembali seperti dulu.

Tidak hanya sukses secara komersial, I Will Wait mendapat sambutan positif dari para kritikus. Lagu ini dinominasikan sebagai Best Rock Song dan Best Rock Perfomance pada Grammy Awards di tahun 2013. Puncaknya adalah ketika album yang menaungi karya ini memenangkan Album of the Year pada Grammy Awards di tahun yang sama.

The Cave

Idealisme seorang musisi biasanya terlihat pada rilisan awal karya mereka. Di sini kita bisa melihat identitas asli mereka sebelum mengikuti arus mainstream agar tetap eksis. Pada lagu ini, Marcus Mumford begitu piawai menulis lirik filosofis yang bisa dimaknai secara universal. Banyak yang menginterpretasikan “The Cave” sebagai kebangkitan mental seorang manusia yang telah lama dalam keterpurukan. Seperti pada liriknya:

It’s empty in the valley of your heart, the sun it rises slowly as you walk, away from all the fears and all the faults you’ve left behind

The Cave, Mumford and Sons

Lirik ini dapat diartikan sebagai kondisi manusia memiliki masa lalu yang kelam, namun perlahan bisa bangkit seiring dia terus melangkah. The Cave atau Goa adalah metafora dari keadaan rasa frustasi, tertutup, dan pengasingan.

Pantas rasanya jika karya monumental ini diganjar nominasi Record of the Year, Song of the Year, Best Rock Perfomance, dan Best Rock Song pada Grammy Awards 2012. The Cave masuk ke dalam debut album mereka Sigh No More, yang meraih British Album of the Year pada Brit Award 2011.

Sebagai pamungkas, mari kita simak penampilan Mumford & Sons dengan musisi Senegal, Baaba Maal. Penampilan ini merupakan bagian dari rangkaian tur mereka di Afrika Selatan

Also read: Emoni Bali: Lestarikan Gending Rare dengan Ning Ning Cening

You may also like