Werner Wessels, The Creative Director of Miss South Africa

by I Wayan Juliandika

Werner Wessels adalah sosok penting di balik melambungnya nama Afrika Selatan di kompetisi pageant beberapa tahun belakangan. Werner Wessels memposisikan dirinya sebagai coach untuk mempersiapkan para puteri dari ujung selatan benua Afrika ini sebelum berangkat berkompetisi. Berkat kerja kerasnya, Afrika Selatan telah dua kali memenangkan Miss Universe (Demi Leigh dan Zozibini Tunzi), satu kali runner up 1 Miss Universe (Tamaryn Green), dan satu kali memenangkan Miss World (Rolene Strauss). Capaian prestasi ini menjadikan Afrika Selatan sebagai salah satu pageant powerhouse.

Perkenalan dengan dunia Pageant

Perkenalan Wessels pada dunia pageant, bermula ketika ia menonton kontes kecantikan ini pada umur 3 tahun. Kala itu, Jacqui Mofokeng dinobatkan sebagai Miss South Africa 1993. Masih lekat dalam ingatannya, ketika ia berlari keluar kamar sesaat setelah pemenangnya diumumkan. Wessels kecil tidak kuasa menahan ketegangan yang ia dirasakan.

Kiprah Werner Wessels di dunia pageant baru dimulai pada tahun 2012. Ketika itu ia membantu persiapan pra kompetisi untuk sahabatnya sendiri, Melinda Bam, ke ajang Miss Universe 2012. Saat itu ia tidak pernah menyangka ini akan membuat karirnya meroket. Melinda Bam berhasil placed hingga top 10 meskipun sempat difavoritkan menjadi pemenang. Wessels pada awalnya cukup optimis Melinda akan memenangkan kontes tersebut namun juri berkata lain. Saat itu dia merasa sangat kecewa dan berpikir bahwa karirnya telah berakhir. Namun, dari peristiwa tersebut ia belajar bagaimana cara menghadapi kegagalan. Ia bersyukur karena kekalahan Melinda membuatnya menjadi belajar banyak hal dan menjadikannya sukses seperti sekarang.

Werner Wessels semakin dikenal setelah ia berhasil mengantarkan Rolene Strauss memenangkan Miss World pada tahun 2014. Dalam sebuah wawancara, ia menuturkan sama sekali tidak pernah menyangka akan bisa membawa Afrika Selatan ke posisi ini. Wessels mengaku merasa bangga karena pernah menjadi bagian dari kemenangan Rolene.

Werner Wessels kembali menjadi coach untuk Refilwe Mthimunye (Top 15 Miss Universe 2015) dan Liesl Laurie (Top 10 Miss World 2015). Ketika ditanya bagaimana rasanya menjadi coach para puteri untuk kesekian kali, Wessels menjawabnya dengan humble. Wessels hanya berkeinginan membantu memaksimalkan potensi unik yang mereka miliki.

Werner Wessels Mempunyai Firasat Kuat dengan Demi Leigh

Wessels bertemu dengan Demi dalam sebuah pemotretan. Ketika itu usia Demi masih sangat belia, 16 tahun. Namun anehnya, Wessels telah melihat potensi besar yang ada dalam diri Demi. Dia menyebutnya X-Factor. Selain itu, Wessels juga menyukai kepribadian Demi yang disebutnya menarik. Mereka tetap menjalin kontak dan sampai akhirnya Demi mengikuti Miss Universe South Africa. Menurut pengakuannya, Wessels tidak pernah terpikir bahwa ia akan menjadi coach dari ajang kontes kecantikan. Harapannya saat itu hanyalah ingin membantu Demi untuk mengembangkan potensinya.

Setelah Demi memenangkan Miss South Africa, secara bersamaan Wessels pun ditunjuk menjadi trainer dan stylist resminya. Wessels tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan Demi ke ajang Miss Universe. Perjuangannya berbuah manis, Afrika Selatan kembali membawa pulang mahkota Miss Universe setelah kemenangan terakhir di tahun 1978. Sedikit tambahan, Demi saat itu memang sudah difavoritkan untuk menjadi pemenang meskipun mempunyai badan yang tidak terlalu tinggi seperti kontestan lain.

Di tahun berikutnya, Werner Wessels kembali menjadi coach untuk Tamaryn Green pada Miss Universe 2018. Wessels kembali membuktikan bahwa dia adalah coach handal dengan berhasil membawa Tamaryn sebagai runner up 1. Tamaryn hanya kalah dengan pemenang saat itu, Catriona Gray. Ini dapat dimaklumi karena Catriona memang cukup mendominasi kompetisi saat itu. Hampir saja Afrika Selatan kembali membawa pulang crown atau yang diistilahkan dengan back to back.

Pada helatan Miss Universe 2019, Werner Wessels mengantarkan Zozibini Tunzi berkompetisi pada ajang ini. Kala itu, Zozi berhasil mengalahkan puluhan kontestan lain dan membawa pulang crown Miss Universe ke tanah kelahirannya, Afrika Selatan. Zozi adalah wanita berkulit hitam kedua dari benua Afrika yang mempunyai gelar Miss Universe setelah Leila Lopez dari Angola.

Kesuksesan wakil Afrika Selatan di Miss Universe tiga tahun berturut-turut menjadikan Werner Wessels mendapat julukan the Queen Maker dari media setempat.

Wessels juga berharap dapat membantu lebih banyak peserta yang berkompetisi. Namun baginya, menjadi trainer adalah sebuah panggilan jiwa. Karena hanya seorang diri, dia hanya bisa menjadi trainer untuk satu orang saja. Karena itulah dia merasa mempunyai kedekatan emosional dengan semua puteri yang pernah menjadi asuhannya.

Sedikit tambahan, organisasi Miss South Africa merupakan platform pageant tertua di negara ini. Organisasinya dinaungi oleh Sun Entertainment. Pemilihan Miss South Africa pertama kali diadakan pada tahun 1943 dan merupakan salah satu ajang pageant terlama yang pernah ada. Miss South Africa terkenal dengan produksi acaranya yang megah.

Kemudian akan muncul pertanyaan, apa rahasia Wessels untuk para puteri agar bersinar di panggung ratu sejagat?

Ajang pageant internasional adalah kompetisi mental. Di sini semua peserta sudah menjadi pemenang (di negaranya sendiri), jadi standarnya akan sangat tinggi. Saya membantu mentransformasi fisik dan mental mereka. Untuk persiapan gaun, mereka harus menonjol dan mempunyai keunikan sendiri. Dalam dunia pageant, saya lebih memposisikan diri sebagai stylish atau trainer. Dalam karir sehari-hari, saya adalah seorang stylist.

Werner Wessels

Dalam sebuah wawancara, Wessels menuturkan bahwa setiap wanita sudah mempunyai potensi. Tugasnya hanyalah membantu menyadari kelebihan dan menjadi versi terbaik dari diri mereka. Ketiga puteri yang diasuhnya sudah mempunyai advokasi mereka sendiri.

Seperti Demi yang pernah mengalami mengalami tindak kejahatan (carjacking atau hijacking), mempunyai campaign yang disebutnya Unbreakable. Melalui campaign ini ia menjadikan wanita sebagai sosok yang tangguh dan bisa melindungi dirinya sendiri. Tindak kriminal seperti ini memang kerap kali terjadi di Afrika Selatan.

Kemudian Tamaryn yang merupakan seorang dokter namun tidak pernah menyangka akan menderita tuberkulosis. Dari penyakit yang dideritanya, ia membuat membuat campaign TB awareness. Ia ingin menyadarkan bahwa siapapun dapat menderita penyakit ini. Lalu Zozibini Tunzi yang mengkampanyekan anti-GBV (gender based violence) yang menekankan kesetaraan gender.

Sebagai pamungkas, mari simak wawancara Werner Wessels dengan Rolene Strauss berikut. Pada video ini mereka membahas asumsi kebanyakan orang ketika menonton ajang pageant.

Ada salah satu pertanyaan yang cukup menarik yaitu:

You need to (be) able to think quickly on your feet, and have the perfect interview skills

Bagaimana komentar Werner Wessels tentang ini?

I have this..it is not even a love-hate relationship. It’s literally just a hate relationship with the word perfect, especially when it comes to my job. When it comes to beauty pageants because it is the expectation and it is the worst thing that you can ever tell anybody and it’s just so false in so many ways because I hate perfection. Because first and foremost, you can’t hate something that doesn’t exist because it literally cannot exist. Cannot exist..see perfection. It’s such an important thing to have these young women understand that being perfect doesn’t make you relatable. It doesn’t make people like you. It doesn’t make people want to listen to you because immediately there’s a barrier between you and your audience because everybody that’s listening to you sees this perfect person and they don’t see anything of themselves in you and that is how you are effective and great as a role model is when people can say “Oh she is just like me” or you know she does the same thing that I do and if you are just this perfect person who does everything great and wonderful then no one can relate to you. No one can find something that they can see of themselves in you and then immediately there’s a barrier between you guys so no perfect answers. I always try the best thing that can happen to you in an interview is to screw up. To say the wrong word or is not knowing something or to do something wrong. Because that is a moment that you can turn into a golden opportunity for people to see your personality and to see how you handle pressure or how you handle failure and that you don’t mind it and then it actually makes people feel more comfortable with you when they see that you can actually take it and you actually good with it.”

Werner Wessels

Footnotes:

GB Gets to Know: Werner Wessels

Inside the mind of the king of beauty queens – Werner Wessels

The kingmaker behind the queens

You may also like